Aku tertegun. Sejenak doaku terhenti untuk mendengar isi hati yang secara tiba-tiba berteriak. Mengapa aku hanya bisa meminta?
Permintaan-permintaan yang tak putus-putusnya naik ke permukaan ketika aku berdoa. Permintaan untuk perlindungan, permintaan untuk berkat, permintaan untuk banyak hal lain yang kupikir bukan permintaan egois. Aku berdoa untuk orang lain, namun itupun juga sebuah permintaan. Aku berdoa untuk bangsa dan negara, namun itupun tidak bisa ku sangkal sebagai permintaan juga.
Bagaikan orangtua yang mengasihi anak-anaknya, Tuhan selalu mendengar ketika kita berdoa, apapun bentuk doa kita.
Kemarin, aku melihat sebuah film tentang seorang bapak dengan anaknya yang sangat miskin. Ketika mereka berhenti di etalase pertokoan, anaknya meminta sebuah mainan dengan merengek kepada bapaknya, anaknya yang tidak peduli bapaknya tidak punya uang, yang tidak peduli orang banyak memperhatikan itu menangis berteriak-teriak, anak itu berusia 7 tahun, masih kecil, sehingga kita bisa mengerti mengapa. Coba bayangkan bila anak itu telah berusia 17 tahun, akankah kita mengelus dada dan tertawa?
Ini hanya pemikiranku. Kedewasaan rohani mungkin diukur dari berapa banyak kita meminta. Semakin kita dewasa kita mungkin lebih bisa melihat kasih sayang Tuhan kepada kita dan mensyukurinya.
Seperti keadaan kita ketika kita telah dewasa, kita akan lebih bisa berterima kasih kepada orang tua kita yang telah membesarkan dan mendidik kita, kita tidak akan berpikir dua kali untuk memberkati orang tua kita dengan tulus sebagai bakti kita kepada mereka, kita akan mengasihi mereka seperti mereka telah mengasihi kita terlebih dahulu. Kedewasaan rohani mungkin juga demikian.
Ini hanya pemikiranku yang muncul tiba-tiba ketika aku berdoa malam itu.
Malam itu aku merenungkan betapa Tuhan baik kepadaku, memberi banyak berkat dalam hidupku, betapa Dia sudah melindungiku dan keluargaku. Tuhan telah memberikannya tanpa menunggu aku meminta. Malam itu doaku hanya sebuah ucapan syukur sederhana dari lubuk hati, doa permintaanku akan kunaikkan besok saja.

©zee

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.