Beberapa waktu yang lalu aku mendengar ada yang menyatakan bahwa penyakit kusta sudah tidak ada lagi di indonesia seiring membaiknya kualitas kesehatan rakyat. Namun tidak lama setelah itu pula aku melihat foto seorang bapak pengemis di daerah jawa, dengan muka penuh lepuh, sulit dikenali, kusta, yang ironisnya di”makelarin” untuk mengeruk sesuap nasi dari iba orang yang melihatnya.
Tuberkolosis, penyakit basil yang saat ini sudah berada pada tingkat MDR ( Multi drugs Resistance), dinyatakan sebagai penyakit tingkat kematian tertinggi setelah AIDS di negara-negara miskin dan berkembang, apakah kita termasuk diantaranya?
Kusta dan tuberkolosis mungkin hanya dua sisi yang hanya bisa terlihat di negara-negara miskin, penduduk awam negara makmur mungkin hanya menganggap itu dongeng di negara yang jauh sekali. AIDS bagi sebagian besar orang yang mapan dianggap sebagai penyakit yang hanya disebabkan oleh gaya hidup yang melenceng, walaupun sebenarnya AIDS lebih banyak di sebabkan oleh kemiskinan, ketidak berdayaan, keputusasaan dan ok lah, kualitas kesehatan moral yang buruk.
Membaca buku-buku tentang penyakit dan kemiskinan entah bagaimana mengusik humanisme dan membuat gelisah. Seakan aku yang membaca itu dengan tenang dan nyaman sambil menunggu suamiku pulang, tergoncang-goncang melihat satu episode mengerikan mengenai jutaan manusia yang sekarat dipinggir jalan, mengenai seorang gadis kecil yang disuntik tapi tangisannya hanya berupa rintihan “aku lapar”.
Apa yang bisa aku lakukan? Sebagai manusia yang buta tentang bidang patologis ( kecuali aku mengerti bahwa obat antibiotik harus diminum dengan tuntas, virus flu harus diperangi dengan vitamin C dan istirahat, dan hal-hal kecil semacam itu), saat ini dibenakku muncul rasa bersalah mengapa aku tidak menyumbangkan uangku pada misionaris Indonesia yang berangkat ke Tibet demi kemanusiaan, atau timbul sebersit pertanyaan, bila aku pergi ke daerah yang tertinggal itu dan mencoba menolong mereka semampuku, apakah aku sanggup? Kekagumanku tak terukur pada mereka yang rela berpeluh bahkan berdarah-darah pergi beratus-ratus kilometer dengan kendaraan yang tidak berhenti bergoncang ke sebuah gubug beratap pelepah pisang yang bocor, hanya untuk bertanya pada seorang bapak mengapa dia tidak meminum obat tuberkolosisnya dengan rutin. Bagi sebagian orang mungkin konyol, tapi bagiku itu mulia. Seseorang bisa mengubah dunia bila dia bisa melihat satu orang miskin sebagai bagian dari dunia itu dan berusaha mengubahnya. Itu menurutku.
Ditulis di sore yang panas setelah membaca “Patria Es Humanidad” by Tracy Kidder
Disarankan untuk tidak dibaca bila humanisme anda hanya ingin duduk di sofa dengan tenang sambil menyeruput secangkir kopi.
© zee