Hari ini saya mendengar suatu cerita yang bagus diradio, dikisahkan ada seorang tukang kayu yang punya sebuah arloji kesayangan, arloji yang selalu dipakainya kapan saja, suatu hari ketika bekerja, entah bagaimana arloji itu terlepas dari tangannya dan terjatuh kedalam tumpukan serbuk kayu bekas gergajian yang cukup tinggi, ia lalu berusaha mencarinya. Teman-temannya yang tahu betapa pentingnya arloji itu bagi si tukang kayupun ikut membantu dan mengaduk-aduk serbuk gergajian itu tapi tetap tidak bisa menemukannya, sampai mereka berhenti sebentar karena kecapekan. Seorang anak kecil yang kebetulan juga ikut menyaksikan peristiwa tersebut kemudian duduk didekat tumpukan serbuk gergajian itu dan selang berapa lama kemudian ia mulai memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu dan berhasil menemukan arloji tersebut. Si tukang kayu itu sangat senang mendapatkan arloji itu kembali dan sangat terheran-heran dengan si anak kecil itu dan menanyakan bagaimana bisa dia seorang diri bisa menemukannya padahal tadi mereka juga sudah beramai-ramai mencarinya. Sang anak menjawab dangan gampangnya kalau dia duduk diam didekat tumpukan itu dan berusaha mencari tahu lokasi arloji itu dengan cara mendengarkan bunyi detak arloji tersebut.
Hari-hari ini saya juga tersadar bukan mudah untuk mencari keheningan ditengah-tengah kesibukan kita, bahkan mungkin krisis global yang membuat kita harus semakin giat bekerja, waktu tersita, badan capek. Waktu pun berlalu dengan cepat. Waktu-waktu saya untuk menulis terpakai habis, hari ini saya berusaha meluangkan waktu sedikit untuk menulis dan berusaha menggunakan keheningan malam untuk mencari sesuatu yang penting dalam hidup saya, Hubungan saya dengan Tuhan.
Saya perlu keheningan itu, saat-saat teduh dimana saya bisa berinteraksi dengan sang penguasa, My Jesus.
“Hai jiwaku, tenanglah ! Berdiam dalam Keheningan………………………………”